Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 April 2010

WISID2

Setelah kemarin menjajikan buat posting foto pantai Delegan-Gresik, akhirnya janji itu aku penuhi, sebuah hasil dari perjalanan kecil, enjoy it!













sudut keindahan dari pantai....

Kamis, 01 April 2010

WISID (Wisata Indah Pantai Delegan)

Suntuk dirumah, mending ikutan bareng-bareng jalan-jalan liat pantai, main ombak dan berpanas-panasan di bawah terik matahari pantai.


Tapi tunggu dulu, gak ada refresensi pantai yang cocok buat yang kayak gitu, apalagi di Surabaya dan Sidoarjo mana ada tempat begituan.

Emang mau ta?, kalau gulung-gulung sama berjemur di pantai kenjeran, terus lari-lari dipasir pantai nya. Ya kalau memang mau ya silahkan.


Tapi gak usah berkecil hati, masih ada tempat yang kayak gituan. Gak perlu jauh-jauh ke Selatan kalau cuman ingin bermain pasir pantai, dan tak usah pergi ke Balekambang atau Ngliyep kalau cuman ingin kejar-kejaran sama Ombak.


Cukup dengan menempuh perjalanan 1,5 jam paling lama, bahkan 1 jam pun bisa ditempuh. Jalananya pun cukup mudah ditempuh dan relatif baik keadaan jalanya.

Tepatnya di Kabupaten Gresik, disebuah pantai yang memiliki panjang tak lebih hanya 500m saja tapi memiliki pasir putih yang lembut dan ombak yang tenang.


Berada di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Masyarakat menyebutnya WISID singkatan dari Wisata Pantai Indah Delegan, Namanya tak terlalu familiar bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya tapi jangan salah, kita bisa memuaskan diri disana sekalian menghitamkan kulit hanya dengan tarif sekitar Rp.3000,- per orang sudah termasuk biaya parkir ditambah gratis sebuah sticker untuk 2 orang+ 1Motor.


Pantai berpasir puith ini diapit oleh dua karang mati yang sengaja dibuat untuk memecah ombak, sehingga aman untuk berenang, dan terlebih lagi pantai ini termasuk dalam pantai Utara sehingga tak usah takut tergulung ombak.


Jika ingin merasa lebih memuaskan diri lagi, ada tujuan wisata yang terletak tak jauh dari Lokasi ini, dan saya yakin sudah banyak yang tahu yaitu Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Maharani Zoo dan Goa (MZG). Dan kedua lokasi ini sudah sangat terkenal dan banyak yang pernah mengunjunginya, sehingga tak perlu aku deskripsikan kembali.


Ada beberapa paket wisata yang saya tawarkan tapi tak pernah ditawarkan oleh pihak management dari WBL dan MZG. Jika memiliki tujuan berlibur ke 2 lokasi ini tak ada salahnya jika selepas dari keduanya bisa mampir ke Pantai Delegan, hanya untuk menikmati Romantisme suasana Sunset dan pasang tertinggi air laut. Karena di tempat ini anda bisa duduk santai di sebuah bamboo yang terletak dibawah pohon waru pantai dan menikmati deburan ombak serta indahnya suasana sunset di tepi pantai Delegan.


Satu hal yang perlu diingat, jangan datang terlalu sore Karena pihak pengelola bakalan menutup lokasi ini setelah pukul 17.00 sore. Sehingga ada baiknya jika datang lebih siang.


Selamat berlibur dan jaga pantai kita agar tetap layak untuk menjadi tujuan wisata.

Foto-fotonya menyusul ya!!!

Selasa, 09 Februari 2010

BaleKambang-Karangkates

Akhirnya kesampaian juga, untuk meluangkan liburan di pantai Balekambang. Pantai yang terkenal dengan pura diatas pulau di tengah laut itu.

Rencana itupun terealisasi, setelah lama tertunda akibat sulitnya mempertemukan waktu luang kami. Semingu sebelum perjalanan ini, kami sempat membahas rencana ini, dan langsung setuju untuk berangkat minggu berikutnya.

Kebiasaan ku sebelum melakukan perjalanan, selalu mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang lokasi tujuan; mulai dari rute, hingga keindahan yang ada didalamnya.
Dan tentunya ditemani oleh mbak Google, banyak informasi yang aku dapatkan darinya sampai peta Kabupaten Malang pun dapat aku download.

Tak sabar untuk segera berangkat, persiapan pun telah selesai tepat pukul 01.00 dini hari kami berangkat dari Surabaya, masih dengan motor kesayangan tentunya. Tak terlalu banyak kendala dalam perjalanan kami Surabaya-Malang semua lancar. Berhenti sebentar sekitar pukul 03.00 untuk mengisi bahan bakar sekalian buang air kecil. Perjalanan pun dilanjutkan, ditemani dengan gerimis sepanjang Kota Malang hingga Gondang Legi.

Tak satupun dari kami yang mengetahui secara persis rute yang kami tempuh, yang aku tahu dari informasi yang diberikan mbak Google adalah hanya sekedar rute yang akan kami lalui tapi detailnya, seperti belokan sama sekali blank.

Sampai di sebuah perempatan, kami berhenti dan untungnya ada seorang tukang ojek Yang mendatangi kami dan memberi informasi. Semakin lama jalan semakin gelap dan sepi karena masih pukul 03.30, agak ragu juga sebenarnya. Di sebuah persimpangan kembali kami kebingungan, dan kembali keburuntungan masih dalam pihak kami masih ada orang yang bisa untuk dimintai informasi.

Sepanjang jalan hanya kampung dan persawahan yang sepi, tak terlihat seorang pun hanya sesekali sepeda motor dan mobil yang lewat. Jalan mulai menanjak dan berkelok tak ada penerangan jalan yang ada hanya pohon-pohon besar dan jurang disamping kami. Dan yang membuat kami terkejut dari Gondang Legi kok malah tembus Kepanjen harusnya Bantur kalau sesuai rutenya, berarti kami tersesat dan memutar arah. Tapi tak apalah yang penting masih bisa sampai.

Sesuai dengan perkiraan ku, ternyata memang benar kami memutar. Dari Kepanjen kami kearah Pagak baru Balekambang. Sebelum sampai di lokasi kami berhenti sebentar untuk Sholat Shubuh di sebuah musholla kecil dipinggir jalan dan istirahat sebentar setelah itu baru melanjutkan perjalanan. Kami disapa oleh seorang jamaah musholla dan memberi tahu kalau Pantai Bale kambang masih 10KM lagi.

Perjalanan pun kami lanjutan, jalanan yang mulus dan menurun membuat kami kami tak sabar untuk segera sampai. Dari sebuah bukit terlihat siluet oranye yang diselimuti oleh mendung, sungguh indah tapi sayang tertutup oleh mendung. Berharap segera sampai untuk bisa menyaksikan matahari terbit di tepi pantai.

Akhirnya sampai juga di Pos penjagaan Pantai, kelihatanya petugasnya berjaga hingga 24jam. Beli tiket dulu, tertera tarif: Rp.5000,- Per Orang, dan Rp.1000,- Per Sepeda Motor.

Masuk kedalam kawasan wisata terdapat pohon-pohon besar dan terlihat rimbun sekali, kesanya angker tapi terlihat eksotis. Semakin masuk semakin jarang pepohonan berganti semak-semak kecil yang tumbuh di atas pasir putih. Dari sini terlihat keindahan pantai beserta ombak-ombak besarnya, pohon-pohon rindang tumbuh di sepanjang tepi pantai.

Sebenarnya sedikit kecewa juga, kok gak sesuai dengan bayangan ku. Tapi tak apalah, jauh-jauh dari Surabaya. Parkir Sepeda di depan warung-warung makan yang tersebar di sekitar kawasan pantai kemudian lanjut makan. Walau masih pukul 05.30 pagi tapi suasananya ramai, mungkin karena pas hari Minggu mungkin. Kelihatanya banyak yang datang pas malam hari.

Kebetulan waktu itu mendung jadi tak terlihat matahari hanya cahaya terang yang muncul dari balik awan kelabu yang hampir menutupi seluruh langit. Rencana ingin melihat matahari terbit pun gagal, tapi masih bisa melihat keindahanya walau hanya berupa silut-siluetnya.



Sesuai informasi yang saya dapatkan, jika memesan makanan kita harus sabar sekitar 15-30 menit, konon katanya semua makanan ini masih “fresh from the oven” alias baru dimasak ketika ada pesanan dan menggunakan bumbu-bumbu instant. Kalau soal rasa ya jangan ditanya, masih mending dari pada tidak makan sama sekali.

Perut sudah kenyang saatnya jalan-jalan, foto-foto sambil narsis-narsis-an.
Ada yang special disini aliran muara sungai yang mengalir diatas pasir pantai menambah keindahan kawasan ini serta pulau-pulau kecil yang tersebar di sepanjang pantai, sungguh indah.











Jalan-jalan keliling pantai ditemani deburan ombak sungguh menciptakan pengalaman yang menakjubkan, ditambah hijaunya kawasan tepi pantai membuat mata ini terasa dimanjakan. Semakin ke Utara semakin sepi, tapi kondisinya semakin alami.





Sedikit membosankan tapi lumayanlah. Hanya sekitar 2jam kami menikmati keindahanm kemudian lanjut pulang.

Sebelum kembali pulang, kami menyempatkan untuk menikmati keindahan Waduk Karang Kates. Eh, gak tahunya disana ketemu teman kantor yang kebetulan lewat. Semakin lama semakin panas, lebih baik kembali pulang.









Sebenarnya, masih banyak hasil foto-foto yang kami dapat, jika tertarik kirim aja email di de2ndchance@yahoo.co.id , insyaAllah nanti saya akan kirimkan.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Ngliyep, im falling in love





Hmm……
Setelah sekian lama tak bersua kini kembali mencoba mencari peruntungan kembali, lewat tulisan ringan yang semoga bisa memberi referensi segar.

*
Sungguh suatu rutinitas yang sangat menguras otak, tenaga dan perasaan. Betapa tidak, belum genap satu bulan aku melanjutkan kembali belajarku tapi sudah ratusan tugas yang mengahadangku (Hiperbolis).
Walau sesungguhnya memang tak ratusan tugas, tapi bebanya begitu berat aku rasakan. Belum lagi pekerjaan yang harus segera untuk diselesaikan……..

**
Aahhhh….Akhirnya minggu ini aku dapat meluangkan waktu untuk sekedar jalan-jalan ria bareng teman-teman sekolahku dulu.
Mereka ngajak ke pantai selatan,….(hmmm…my favorite destination). Pantai Ngliyep, Malang selatan…(The beautiful beach!!!).
Berangkattttt…….

***
Ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di pantai ini, Pantai yang terlihat masih alami, berpasir putih yang membentang luas dari ujung Timur hingga ke Barat dan dikelilingi oleh pohon-pohon rindang khas pantai.
Gunung-gunung karang yang besar yang seolah menyekat setiap pantai yang ada menambah keindahan dan eksotisme nya . Serta yang membedakan nya dengan pantai yang lain.
Pada setiap karang terdapat jalan setapak yang dapat dilalui oleh pengunjung. Dari sini pengunjung dapat menyaksikan keindahan seluruh pantai sekaligus Samudra Hindia yang tebentang luas sejauh mata memandang.
Setiap sekat pantai memilki ciri khas yang berbeda. Mulai dari jenis pasirnya hingga deburan ombaknya. Di ujung Barat terdapat Pantai yang berpasir putih dan lembut dan memilki deburan ombak yang relative kecil, tapi memang sedikit panas. Sedangkan di bagian tengahnya terdapat pantai yang rindang berpasir sangat lembut tapi sedikit kotor oleh sampah organik dari tumbuhan disekitar pantai.
Dan satu tempat yang menjadi favorite kami adalah sebuah pantai yang tidak terlalu panjang dan dikelilingi oleh batuan karang besar apalagi akses menuju kesana pun agak sedikit berat sehingga terkesan private tetapi keindahan pantai sungguh luar biasa.
Pasirnya sungguh bersih sedikit kasar, airnya sungguh jernih dan dingin. Tempatnya pun tidak terlalu panas karena di kelilingi oleh dua batu karang yang sangat besar.. Serta yang tak kalah serunya adalah ombaknya yang lumayan besar jika dibandingkan dengan bagian pantai yang lain. Bahkan keindahanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata….(**)
Yang membuat istimewa adalah di bagian pantai ini jarang orang yang mau untuk datang kemari. Sehingga seolah pantai ini hanya menjadi milik kami. Disini kami bebas berlari, berkejaran dengan ombak dan berguling di atas pasir…..(sungguh pengalaman yang tak kan bisa kami lupakan).

Dan disisi paling timur terdapat pantai cukup luas dan melengkung. Di pantai ini Masyarakat sekitar biasa menjadikan tempat upacara semacam Larung Sesaji atau memberikan sesaji berupa hasil bumi ke laut, entah atas dasar apa mereka melakukan ritual seperti ini.

Lepas dari mitos yang ada Pantai Ngliyep memang pantas untuk dijadikan sebagai tujuan wisata favorite.

****
Pantai Ngliyep terletak sekitar 70 KM dari puusat kota Malang dan 153KM dari kota Surabaya, jarak tempuh berkisar antara 3,5 – 4 jam perjalanan. Disarankan untuk menggunakan kendaran pribadi baik motor atau mobil.
Ada dua rute yang bisa dilalui untuk menuju kesana :
Rute I. Surabaya-Sidoarjo-Pasuruan-Malang Kota-Kepanjen-Pagak-Donomulyo-Ngliyep
Rute II. Surabaya-Sidoarjo-Pasuruan-Malang Kota-Karang kates-Donomulyo-Ngliyep
Jika menempuh Rute I, maka jarak tempu relative lebih singkat dan melalui jalan yang tidak terlalu menanjak. Tapi jika melalui Rute II, Jarak tempuh sedikit panjang dan jalananya pun berkelok dan menanjak tapi keindahan alam yang tersaji sungguh bisa menyegarkan mata dan pikiran anda.
Apapun Rute yang dipilih yang jelas, persiapkan kendaran anda dengan sangat prima. Jangan sampai liburan bahagia anda terganggu dengan masalah kendaran.

Selamat Berlibur!!, Jagalah Keasrian dan Keindahan alam kita. Agar dapat terus kita nikmati hingga generasi-generasi mendatang.

Rabu, 17 Juni 2009

Pantai Camplong





Madura…….oh…..madura. Saat ini namamu begitu melanglang buana hingga ujung papua. Bahkan sampai Negara tetangga.

Itulah sepenggal kata-kata yang dapat aku gambarkan tentang kondisi Madura saat ini. Belum reda kehebohan masyarakat Indonesia terutama masyarakat GerBangKertaSuSiLa (Gersik, Bangkalan,Mojokerto,Surabaya,Sidoarjo,Lamongan) , yang saat ini berganti nama menjadi GerMaKertaSuSiLa (Gersik, Madura, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) Karena adanya sebuah mahakarya anak bangsa yang dapat menghubungkan dua benua,yang kini menjadi kebanggaan bangsa (mengutip dari pidato presiden saat peresmian jembatan Suramadu).

Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan, melainkan sisi lain dari pulau madura tentang keindahan alam yang membentang indah dan luar biasa dari ujung Bangkalan hingga Sumenep, bahkan hingga pulau terluarnya Masalembu. Yang begitu eksotis tapi jarang diketahui oleh banyak orang bahkan masayarakat Surabaya sekalipun.

Namun karena keterbatasan yang begitu banyak membatasi hingga aku tak sanggup untuk menceritakan semuanya (he….he….piss) ;D.

****
Sampang adalah sebuah kabupaten yang terletak diantara Kabupaten Bangkalan Dan Kabupaten Pamekasan. Dan Kabupaten terdekat kedua setelah Bangkalan jika melakukan perjalanan dari Surabaya. Jarak antara Sampang dan Surabaya sekitar 98KM atau menempuh sekitar 4 jam lebih perjalanan dari pelabuhan Kamal, Madura. Dan Sekitar 5 jam jika ditempuh dari pusat kota Surabaya (sudah termasuk waktu untuk antri dan menyebrang dengan jasa kapal fery). Sebuah jarak yang lumayan jauh jika harus ditempuh dengan menggunakan motor. Tentu saja saat ini bisa lebih cepat jika harus melewati jembatan Suramadu, jembatan terpanjang se-Asia Tenggara dan memiliki panjang sekitar 5,4km tersebut. Mungkin bisa menghemat waktu hingga 30menit.

Memiliki pantai berpasir putih, Pantai itu benama Pantai Camplong terletak di Desa Tambaan, Kecamatan Canplong, Kabupaten Sampang. Dan Berada di jalan utama Kabupaten.
Pantainya begitu indah dengan deburan ombak yang tenang dan memiliki kebersihan yang terjaga. Airnya berwarna hijau kekuningan jika terlalu dekat dengan bibir pantai jika agak sedikit ke tengah maka airnya berwarna kebiruan. Di sepanjang pantai terdapat banyak pohon cemara yang berdiri tegak persis di tepian pantai menambah ke-eksotis-an pantai tersebut. Di sepanjang pantai juga terdapat perahu-perahu nelayan pencari ikan yang siap mengantarkan kita berkeliling mengitari pantai.

Bagi yang suka berenang, tempat ini cocok buat berenang karena ombaknya yang tenang dan memiliki kontur pantai yang landai sehingga aman jika dijadikan tempat untuk berenang tapi jangan terlalu ketengah. Jika beruntung maka akan menemukan ubur-ubur yang sedang asyik berenang, tapi kurang tahu beracun apa tidak.

Jika ingin berlama-lama, jangan kuatir ada hotel yang bisa menampung anda untuk sekedar beristirahat atau bahkan bermalam.

*****
Malam itu, tepatnya minggu malam. Lagi asyik-asyiknya nonton termehek-mehek, tiba-tiba seorang teman menghubungi mengajak untuk melakukan kebiasaan yang sudah hampir satu bulan tidak kami (aku dan kawan-kawan) lakukan. Yaitu kebiasaan suka jalan-jalan entah kemana tergantung roda motor mau berputar kemana.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pulau Madura, WHat….pulau Madura. Tak satupun dari kami mengenal pulau Madura, walau beberapa dari kami pernah ke pulau yang memilki nama lain pulau garam tersebut. Berbekal sebuah cerita dari teman tentang keindahan pantai di Pulau Madura akhirnya kami memutuskan untuk nekat pergi kesana, padahal tak satupun dari kami tahu soal Madura.

Usut punya usut, kami memutuskan untuk mengajak teman yang tahu soal Madura. Tak tanggung-tanggung kami mengajak putra asli Madura. Namanya Syafi’i ia asli kelahiran Bangkalan tetapi ia dibesarkan di Surabaya. Mendapat ajakan dari kami ia begitu bersemangat dan ia berjanji untuk mengajak kami mampir ke rumah Mbah nya.

Pagi itu begitu cerah, secerah hati kami mungkin. Kami berangkat berempat, aku, Hendy, Bayu dan Guide kami Syafii. Menaiki kendaran kebanggaan kami, yang selalu setia kemanapun kami pergi (he…he). 2 motor telah siap mengantarkan kami sampai ke tempat tujuan (padahal gak punya tujuan).

Berangkat dari Surabaya sekitar jam8 pagi. Sampai di pelabuhan ujung, Tanjung Perak setengah jam kemudian. Tak begitu lama kami menunggu fery, dari ujung pelabuhan terlihat fery hendak merapat di pelabuhan. Terlihat banyak sekali rombongan yang hendak menyebrang, mungkin karena hari ini hari libur sehingga banyak orang rantau yang hendak balik ke Madura untuk mengisi liburan.

Kapal membunyikan sirine (atau apalah namanya), dan pintu kapal mulai dinaikan. Perlahan mulai meninggalkan pelabuhan.
Perlahan tapi pasti kapal mulai menyebrangi selat madura. Dari kejahuan terlihat jembatan Suramadu, tapi saat itu belum benar-benar tersambung antara sisi Madura dan Sisi Surabaya, tapi sudah terlihat kemegahanya. Dan disisi pelabuahan tepatnya sebelah timur dari pelabuahan ujung terdapat monumen patung Jalasveva Jayamahe, Patung yang memiliki tinggi 30,6m dan titopang oleh gedung setinggi 30m, kabarnya sempat menjadi patung tertinggi kedua setelah patung Lyberti di Amerika (sotoy…..).

Setelah menapakkan kaki di tanah Madura, sesegera mungkin perjalanan kita lanjutkan karena begitu panas terik matahari.

Sempet kebingungan juga disana, mau kemana nie gak ada tujuan. Pada saat inilah peran guide benar-benar kami manfaatkan. Melaju menyusuri Bangkalan dari kota hingga daerah pegunungan dengan jalanan yang khas naik turun, yang menarik jalanan begitu lurus hampir tidak ada belokan. Mungkin karena jalanan begitu lurus hingga kami merasa tak ada ujung. Sesekali kami memasuki hutan dan tak begitu lama ketemu lagi sama pemukiman penduduk terus Pasar, begitulah seterusnya hingga memasuki kabupaten Sampang.

Pada posisi seperti ini, Psikologi kami terguncang (bahasane rek). Ditengah perjalanan keimanan kamipun diuji (“_”) antara terus melanjutkan perjalanan atau kembali pulang. Dengan tekat yang bulat dan semangat yang besar (Merdeka!!!!). Kita taklukan bumi Madura ( Glodak ).

Sampai juga kita pada sebuah kota dan tenyata kota itu adalah Sampang, Setelah melawati Pasar Sampang, kita dihadang oleh pertigaan, untung rambu2 disana cukup lengkap, dan jika ingin mencapai pantai camplong harus belok kanan.

Hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Pasar…..Kami mencium bau segar suasana pantai dan sedikit amis tentunya karena banyak warga menjemur ikan. Mata kami berbinar saat melihat plat besar bertuliskan Pantai Camplong.

Untung Hendy sang pencetus ide, tahu kalo ingin masuk mending lewat samping jangan lewat hotelnya, katanya biaya masuk lebih mahal. Benar juga lewat samping kita hanya dikenakan biaya Rp.1500,-. Tak tahu pasti berapa biaya masuk jika harus lewat pintu masuk resminya, yang jelas lebih mahal.

Begitu masuk area pantai, Rasa lelah selama perjalanan hampir lima jam terobati juga. Pantainya berpasir putih, lautnya biru membentang hingga tak terlihat ujungnya, sungguh kekuasaan Tuhan yang begitu menakjubkan. (lihat kondisi detilnya diatas…..hehe, lagi malas nulis nie).

Motorpun langsung kami parkir, dan yang menarik disini, tidak disediakannya lahan parkir jika harus masuk lewat pintu samping, tapi jika lewat pintu utama disediakan lahan parkir tersendiri. Dengan tidak disediakanya lahan parkir, motor kami pun bisa dengan leluasa menelusuri tiap jengkal pasir pantai hingga ujung pantai.

Senam sebentar sebelum terjun ke air karena perjalanan yang lumayan lama. Panatat terasa panas dan pegal karena menempuh perjalanan yang lumayan menguras emosi.

Airnya hangat tidak terlalu dingin, tapi ketika terus berjalan ke tengah semakin lama air terasa semakin dingin. Itu tandanya air semakin dalam. Walau berjalan terus kearah tengah, terasa kaki ini masih menginjak pasir.

Terlihat dari kejahuan beberapa rombongan menikmati suasana pantai. Sesekali mereka berlari berkejaran dan saling mendorong.

(Ting…..ada gambar bohlam menyala diatas kepala). Aha….Pasti seru jika kami saling mendorong satu dengan yang lain, kapan lagi kami merasa bebas seperti ini tanpa rasa malu atau canggung sedikitpun. Dan alhasil semua menjadi basah, kecuali sang Guide kita, rupanya ia terlalu canggung. Ia memlilih untuk berada ditepi pantai, sesekali ia jepret sana jepret sini, mengabadikan momen berharga seperti ini.
Bosen main air, foto-foto sebentar buat kenang-kenangan.

Akhirnya waktu yang mengharuskan kita untuk meninggalkan pantai ini.
Perjalanan pulang kami mampir sebentar untuk berkunjung kerumah teman yang berada di Sampang. Setelah pencarian (harus bolak-balik mencari alamat rumahnya). Dari kejahuan seorang memanggil kami, dan itulah akhir dari pencarian kami.

Beberapa gelas minuman mengawali obrolan kami, dilanjutkan dengan makan rujak Madura yang khas ditambah kerupuk putih membuat perut kosong kami menjadi terisi. Sapaan hangat dari keluarga nya, membuat kami serasa di tanah sendiri. Satu sak jagung telah ia siapkan untuk menyambut kami, dibakar dulu biar lebih nikmat rasanya walau udara siang itu lumayan panas.

Dari A sampai Z sudah kita bahas, hingga kami harus meminta pamit untuk meneruskan perjalanan pulang , takut kemalaman mengingat medan yang kita lalui cukup berat (*o*).

Perjalanan kami lanjutkan, rute jalan sama seperti waktu kami berangkat. Sebelum pulang Sang tour guide kita memenuhi janjinya untuk berkunjung ke rumah Mbah nya di daearah Bangkalan. Mampir dan istirahat sebentar, setelah itu kami lanjutkan perjalanan untuk kembali pulang.
Oia, ketika hendak sampai kerumah mbahnya, ada sebuah spot yang menyita perhatian kami sehingga kami sempatkan untuk berhenti sejenak sekedar ambil gambar.

Pelabuhan Kamal telah menyambut kami, Begitu ramai suasana pelabuhan malam ini. Hingga kami harus antri cukup lama untuk menaiki kapal fery. Tuhan begitu baik kepada kami, Tuhan telah mengabulkan doa kami dan mengirimkan fery untuk mengantarkan kami kembali ke Surabaya.

Kapal mulai bersandar dan pintupun dibuka, dari dalam kapal sejumlah kendaraan dan manusia berebut untuk keluar. Petugas pelabuhan tak tinggal diam, mereka mengatur arus keluar supaya tertib dan berjalan lancar.

Akhirnya kami bisa menyebrang walau harus berdesak-desakan, Kami meningglkan pelabuhan Kamal kira-kira pukul 7 malam. Setengah jam kemudia kami sudah sampai di Surabaya dan terus kembali pulang.

Info Penting : Jika telalu malam untuk kembali ke Surabaya ada baiknya cari tempat untuk                          bermalam, karena perjalan dari Sampang ke Bangkalan harus melewati hutan                          yang masih belum ada penerangan jalan, sehingga terlalu berbahaya jika harus                          dilewati.
                        Ambil hanya foto, tinggalkan hanya jejak kaki.